BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 23 Agustus 2010

AKU DAN BINTANG

Aku sudah lama mengenal Bintang, lama sekali, sejak SMP, eh SD, ah atau mungkin sejak aku lahir, karena Bintang selalu ada untukku, selalu menemani aku, tempat aku mengadu, tertawa bersama bahkan saat aku ada masalah Bintanglah yang pertama kali tahu.

Hingga suatu hari Bintang harus pergi, dia lulus SMA dengan angka luar biasa. Itulah yang aku kagumi dari Bintang. Dia pintar, cakep dan selalu perhatian, dan dia tak pernah bisa melihatku menangis. Dia telah menjadi bagian hidupku. Mulanya aku senang karena Bintang berhasil lolos di Fakultas Psikologi yang sangat diimpikannya. Tapi aku terpana ketika tahu universitas mana yang berhasil dimasukinya.

“Mengapa harus jauh-jauh di Pekanbaru? Mengapa tak di sini saja, apa sih kurangnya Jogja buat kamu?” Kutatap matanya yang terus saja memancarkan girang.

“Nadia, di manapun tempat kuliah itu sama saja! Jogja, Pekanbaru. Tinggal kita nya aja kok….” Jawabnya.
“Tapi….”

“Percayalah, aku baik-baik saja di sana!” Potongnya
Kupejamkan mataku, mungkin kamu akan baik-baik saja tapi aku? Apa aku bisa terus di sini tanpa kamu? bisik hatiku.
“Sampai di sana kamu pasti akan melupakanku….” Air mata ini tak sanggup kubendung lagi, aku bahkan terisak isak, Bintang hanya tersenyum. Ia menarikku dalam pelukannya aku menangis di bahunya.

“Tak akan pernah Nad! Mana mungkin aku bisa melupakan anak manja dan cengeng sepertimu….”
Kutinju bahunya aku meronta dari pelukannya,dan berlari menjauh darinya. “Ingat Bintang! Aku bukan anak kecil lagi “ Jeritku

Dia tertawa dan terus mengejarku, selalu saja begitu. Kami sudah sangat dekat, dekat sekali, sementara senja bergulir perlahan, tempiasan sinarnya memantul di permukaan telaga. Liburan kali ini seperti juga liburan kemarin selalu saja dihabiskan di tempat ini, di Telaga Sarangan, tapi kami tak pernah bosan. Bahkan ketika liburan tahun sebelumnya Ayah mengajakku ke Bandung mengunjungi Oom Bayu, Aku sedih sekali tak bisa ke Sarangan bersama Bintang.

“Jangan menangis gitu dong, ! Jogja-Pekanbaru itu nggak jauh kok, aku kan bisa telpon kamu. Ayo senyum! Masa jagoan cengeng…” Ejek Bintang ketika aku mengantar kepergiannya di Bandara.

Aku mencoba tersenyum, kamu nggak tahu Bintang, Meskipun aku bisa telpon kamu seharian pun tetap beda kalau kamu tak ada di dekatku, kamu nggak bisa temani aku ke Perpustakaan lagi, jalan-jalan ke Malioboro, ke Alun alun atau ke Sarangan, nggak bisa lagi!

***

Satu tahun terakhir Bintang mulai jarang menghubungiku, ketika kutanyakan dia hanya menjawab “sibuk.” Sibuk berorganisasilah, sibuk kuliah, dan segala macam alasannya. Aku maklum, aku percaya Bintang tak pernah bohong padaku.

Dua tahun di awal, Bintang tak pernah menghubungiku lagi. Telpon kostnya ketika kuhubungi diangkat temannya, dan dari temannya kutahu Bintang sudah pindah. Hand phonenya tak pernah aktif. Lalu kutulis surat lewat email, lama sekali baru dibalas.

“Dear Nadia…
Maaf baru ku balas email kamu, aku sangat sibuk Nad, semester depan aku PKL, setelah itu aku KKN, Nadia belajar yang rajin, sebentar lagi UN khan? Moga-moga lulus. Lam sukses…
BINTANG

Setelah itu Bintang tak pernah lagi membalas emailku, berkali-kali aku meminta alamat barunya atau nomer handp honenya tapi Bintang tak pernah membalas emailku.

Hari-hari menjelang UN makin dekat, sejenak Bintang terlupakan, sebagai gantinya tiap malam sebelum tidur aku memandangi bintang-bintang di langit, menumpahkan semua sedih, perih dan juga rindu. Aku selalu berharap bintang-bintang itu menyampaikan keluh kesahku pada Bintangku yang selalu saja sibuk.
“Mungkin kamu mencintai Bintang, Nad. Mengapa kamu nggak pernah jujur padanya…” ucap Luna suatu hari, satu-satunya orang yang dekat denganku setelah kepergian Bintang.
“Entahlah Luna, aku nggak tahu…” jawabku datar.

“Kamu membohongi diri sendiri kalau bilang nggak cinta sama Bintang!” lanjut Luna.
Kubiarkan semua ucapan Luna mengambang di kesejukan senja. Seperti tak percaya aku datang ke Sarangan bersama Luna, bukan bersama Bintang! Cepat kubuang jauh semua anganku tentang Bintang. Bintang sudah melupakanku. Ternyata apa yang pernah kutakutkan dulu terjadi juga. Pelan kugoreskan pena di atas diary kecil yang selalu kubawa ke mana-mana.

Seruling bambu
Merdu walaupun sendu
Menyentuh daun-daun waru
Menyentuh celah-selah kalbu
Telaga Sarangan menyimpan misteri
Sampai kini tak kumengerti
Senja makin kelabu. Kutinggalkan Sarangan dengan berbagi macam kecamuk di kepala, benarkah Bintang telah melupakanku? Mengapa?

***

Hasil kerja kerasku selama hampir dua tahun penuh tak sia-sia, aku lulus UN dengan nilai menakjubkan. Ayah dan Ibu bangga padaku, semua mengucapkan selamat padaku, bahkan Oom Bayu menawariku kuliah di Bandung. Tapi aku menolak, sama halnya ketika aku ditawari beasiswa di berbagai PTN. Sebenarnya ini kesempatan langka, tapi aku sudah punya rencana sendiri,dan saat kuutarakan pada Ayah aku membuat beliau marah dan kecewa.

“Apa!! Pekanbaru? Lebih baik kamu masuk UI saja!“ kata Ayah
“Tapi Ayah, Nadia ingin mencoba hal baru, Nadia ingin hidup mandiri tanpa Ayah dan Ibu, saya pikir Pekanbaru tempat yang bagus…” hampir menangis aku meyakinkan Ayah. Dan Ayah pun akhirnya luluh.

Begitu kutinggalkan Ayah dan Ibu, aku ingin mengejar mimpiku, aku ingin mencari Bintang. Pekanbaru adalah hal baru bagiku tapi aku yakin akan menemukan Bintang dan bisa bersama-sama dengan Bintang lagi. Aku tinggal di sebuah apartemen kecil, bersama dengan beberapa mahasiswa dari berbagai kota dan daerah. Akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri asal Medan, kak Tia.

“Nad, kenapa sih kamarmu penuh dengan segala macam benda dan hiasan bintang? kamu suka sama bintang?“ tanyanya suatu hari.

Aku memandang semua barang-barang itu, mulai dari bantal yang berbentuk bintang, stiker-stiker bintang, jam berbentuk bintang, selimut dan sprei yang bergambar bintang, handuk dengan motif bintang, gantungan kunci, mangkuk berbentuk bintang dan gelas dengan hiasan bintang, dinding bercat dengan gambar bintang, buku, kotak sabun, kotak pensil, lemari semua penuh dengan segala macam tentang bintang.

“Aku terobsesi dengan bintang, kak. Aku ingin selalu dekat dengannya dan ingin memilikinya, karena dia adalah hal paling indah yang pernah kulihat…“

“Kakak juga suka Bintang, Nad, karena dia adalah satu-satunya orang yang paling kakak cintai…“ kak Tia memandangku penuh senyum

“Orang? Maksud kakak? Kakak kenal Bintang?“ tanyaku.
“Ya, nanti malam dia ke sini, kakak mau kenalkan dia sama kamu…“ Ucap Kak Tia sebelum berlalu dari depan kamarku.Aku terlolong mendengarnya, Bintang? Bintangkukah…

***

Aku memandang mereka dari kejauhan, kak Tia bergandengan dengan seseorang, dan rasanya aku sangat mengenalnya.

“Nad, ini Bintang, pacar kakak. Bintang, ini Nadia, adik yang tinggal serumah denganku…“ Kak Tia memamerkan senyum lesung pipitnya.

Aku tak mampu mengulurkan tangan, tubuhku beku, aku ingin memeluknya, menumpahkan semua rindu yang ada, tapi tak bisa, ada kak Tia yang memegang lengannya erat.

“Nadia…apa kabar? Tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu…“ ucap Bintang. Aku tersenyum kecut. Kamu jahat, Bintang! Kamu melupakan aku, dan sekarang tak ada sedikit pun ucapan maafku untukmu, umpatku dalam hati.
Aku tak sanggup menahan perasaanku, hati ini rasanya mau meledak. Aku pergi dari hadapan mereka yang menatapku dengan tak mengerti, aku menuju kamarku, kubanting pintu dengan keras hingga terdengar sampai ke beranda tempat mereka duduk berdua.

Hanya seorang gadis bodoh yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tak pasti, mengharap seseorang tanpa mau mengakui perasaannya sendiri. Uh… Bintang takkan pernah tahu perasaanku, dia pasti menganggapku hanya sebagai teman atau adiknya karena aku tak pernah berani jujur padanya tentang semua ini. Aku kecewa dengan pertemuanku dengan Bintang. Aku sedih, Bintang telah menjadi milik orang lain.Bintang biarkan aku mencintaimu dari jauh, hingga perlahan rasa itu reda.


THE END


1 komentar:

The Gunners mengatakan...

Tugaz bhsa indonesia Q pas kelas X,,